Sabtu, 06 Agustus 2016

Nasib petani tembakau lereng Merbabu



     Petani tembakau lereng merbabu saat ini sedang di hadapkan dengan permasalahan tentang kondisi cuaca yang tidak menentu.jika pada umumnya di awal bulan Agustus mereka sudah memulai panen raya tembakau, akan tetapi berbeda untuk saat ini.Masyarakat mengeluhkan hujan yang terus saja turun meskipun pada perhitungan “Pranoto mongso” (perhitungan musim orang jawa) sudah menginjak bulan ke 2,itu artinya menunjukkan musim kemarau. Namun kenyataanya masih saja turun hujan.

     Sedangkan menurut perhitungan data BMKG, tahun ini memang mengalami perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya,dimana curah hujan akan meningkat dan di mungkinkan akan mendominasi di sebagian besar wilayah Indonesia. Atau yang sering juga disebut dengan istilah Kemarau basah.

Bagi para petani Tembakau khususnya di wilayah lereng Merbabu hal ini sangatlah merugikan, di karenakan tanaman tembakau milik mereka banyak yang mengalami kerusakan, Daun membusuk ,Hama pampungen (penyakit di daun tembakau)  dan akan terancam gagal panen.<!-- Start of KomisiGRATIS.Com Script -->
<script type="text/javascript" src="http://komisigratis.com/ads.php?pub=23843"></script>
<!-- End of KomisiGRATIS.Com Script -->

     Permasalahan kedua ialah jika hujan terus turun,kalaupun daun tidak rusak namun tingkat ketebalan daun tembakau akan berkurang dan menghasilkan tembakau berkwalitas buruk. sehingga berdampak pada hasil Rendemen menjadi berkurang.

     Rendemen ialah perbandingan daun tembakau basah dengan hasil akhir tembakau Rajang jadi.jika biasanya 100 kg daun basah berbanding menjadi 20kg tembakau Rajang jadi,maka karena pengaruh cuaca bisa saja hanya menjadi 12-13 kg tembakau Rajang jadi.dan ini akan berdampak pada kerugian petani tembakau itu sendiri di karenakan biaya operasional tidak sebanding dengan harga jual natinya. 

     Untuk mengurangi dampak kerugian dan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut para petani terus mengambil daun tembakau yang telah menguning kemudian di keringkan  untuk tetap di jual  atau biasa disebut dengan istilah  Krosok (Daun tembakau kering) namun harga Krosok di pasaran sangatlah murah yaitu sekitar Rp. 4000;/kg,dan akan sangat berbeda jauh jika di banding dengan harga tembakau kering jadi yang bisa menembus harga kurang lebih Rp.60.000;/kg.
Mengingat proses pengeringan tembakau Rajang sangatlah rumit dan membutuhkan panas matahari yang cukup,hingga saat ini belum ada aktifitas perajangan tembakau skala besar di wilayah lereng merbabu.(Boyolali 6 Agustus 2016.Teguh budiana)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar