Jumat, 07 Desember 2018

ETNIK DAN BUDAYA NEGARA-NEGARA ASEAN


ETNIK DAN BUDAYA NEGARA-NEGARA ASEAN
  1. FILIPINA
Budaya Filipina mendefinisikan kekhasan unik dari Philipina dari seluruh dunia. Kekayaan dalam budaya membuatnya sangat berbeda dan lebih menonjol dari negara lain. Filipina memiliki beragam warisan budaya seni tradisi dan bahasa yang diucapkan. Negara ini memiliki museum tak terhitung yang mengambil account untuk evolusi sejarah dan budaya yang luas bangsa dengan gereja-gereja museum dan galeri tersedia di seluruh Kepulauan Filipina dan ditemukan di kota-kota kunci yang berbeda dari provinsi.

Masing-masing provinsi memiliki tarian budaya rakyat sendiri menampilkan gaya elegan tarian Filipina dan keindahan rakyatnya. Mereka juga mengikuti tradisi unik mereka sendiri dan memiliki cara untuk merayakan praktek-praktek budaya mereka melalui pesta-pesta dan acara. Filipina alami cinta seni dan mereka dapat menggambarkan peristiwa sejarah tertentu melalui lukisan puisi lagu dan tulisan.

Budaya Filipina
Orang Filipina terbiasa menyapa dengan bersalaman. Saat orang yang lebih muda bertemu dengan yang lebih tua, biasanya harus mencium punggung tangan orang yang lebih tua sebagai rasa hormat. Wanita muda di Filipina ketika bertemu dengan yang lebih tua harus mencium kedua belah pipinya sebagai rasa hormat.
Beberapa suku asli di Filipina mempunyai cara salaman yang sangat khas. Ketika selesai salaman mereka akan berbalik dan mundur beberapa langkah. Ini mengartikan memberikan penjelasan bahwa mereka tidak menyimpan pisau di punggung mereka. Mereka menganggap ini sebagai cara salaman yang paling benar dan tulus.
Orang Filipina kebanyakkan memeluk agama Katolik Roma dan sebagian kecil memeluk agama islam.
Orang Filipina sangat tabu angka 13 karena dianggap sebagai “dewa jahat” yang melambangkan malapetaka dan bencana. Mereka juga tabu menerima dan memberikan sesuatu dengan tangan kiri karena dianggap sebagai tangan yang kotor.
Filipina dulunya adalah daerah kolonial Spanyol. Budaya di Filipina kebanyakkan mendapat pengaruh dari Spanyol. Di Filipina tidak boleh minum arak dan toko-toko juga dilarang untuk menjual arak.

Tarian rakyat Filipina disebut LAWISWIS KAWAYAN. Hal ini dilakukan untuk sebuah lagu rakyat Waray yang telah becaome populer di seluruh kepulauan Filipina.
1.  Tari Tinikling
Tarian ini berasal dari Leyte antara Visayan pulau-pulau di Filipina tengah sebagai tiruan dari burung tikling yangmenghindari perangkap bambu yang ditetapkan oleh petani padi. Tarian ini meniru gerakan burung tikling karena mereka berjalan di antara batang rumput, berjalan di atas cabang pohon, atau perangkap bambu menghindar ditetapkan oleh petani padi. Penari legendaris meniru burung tikling dan kecepatan dengan terampil manuver antara tiang bambu besar.
Bentuk tarian yang menggunakan tiang dan fancy footwork. Biasanya, gaya tari tinikling ialah di mana dua pemain individu menggunakan tiang bambu untuk memukul, tekan, dan geser di atas tanah dan terhadap satu sama lain dan bersama dengan penari lebih yang melangkah di atas dan di antara kutub.
v PAKAIAN TRADISIONAL FILIPHINA 
 Kostum nasional resmi adalah orang Filipina tagalog barong. Pakaian atas anak laki-laki dalam gambar adalah sebuah barong. Hal ini dikenakan di atas kemeja kerah Cina disebut camisa de Chino. Anak itu juga mengenakan berpinggiran lebar tradisional salakot topi, yang biasanya terbuat dari rotan atau buluh.
  Kostum nasional resmi Filipina adalah perempuan baro di Saya (= baro’t Saya). baro adalah blus atas. Saya adalah roknya.
  Mereka tampak seperti Ferdinand dan Imelda Marcos!Dia terkenal karena memakai terno dengan lengan kupu-kupu-nya.
Hal ini disebut “Maria Clara”.
  1. MALAYSIA

Saat ini populasi penduduk Malaysia terdiri dari lebih 20 juta orang yang merupakan campuran dari berbagai negara. Lokasi Malaysia yang terletak diantara laut China Selatan dan Samudra Hindia telah membuat Malaysia menjadi tempat pertemuan para pedagang serta para turis mulai dari barat sampai timur.

Jadi secara singkat dapat dijelaskan bahwa kebudayaan Malaysia merupakan kebudayaan yang multikultural serta multi ras yang terdiri dari kebudayaan asli Malaysia, kebudayaan China, kebudayaan India, serta kebudayaan dari negara - negara lain yang dibawa oleh penduduk yang saat ini menetap di Malaysia. 
Saat ini etnis yang menetap di Malaysia terdiri dari 32 % etnis China, 9% etbis India, serta 59% etnis Malaysia dan sisanya merupakan campuran dari penduduk negara-negara yang ada di dunia ini. Bahasa yang berlaku di Malaysia adalah bahasa Melayu, bahasa Inggris, bahasa China, Bahasa Tamil, serta beberapa bahasa khas masing-masing suku di malaysia. Namun demikian, walaupun bahasa Melayu merupakan bahasa resmi negara, namun penggunaan bahasa Inggris lebih sering digunakan untuk kegiatan - kegiatan bisnis dan hampir semua mata pelajaran di Malaysia menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Untuk agama, Muslim merupakan agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Malaysia yang kemudian disusul dengan agama Buddha, Hindu, Kristen, dan Tao. 
Masyarakat Malaysia gemar membuat ukiran dan tenun. Adat Timur Malaysia dikenal dengan topeng kayunya. Sedangkan  arsitektur malaysia yang merupakan bagian dari kebudayaan malaysia terdiri dari perpaduan budaya Islam dan China yang sebenarnya dibawa oleh kolonis Eropa ke Malaysia. Sehingga ada kemiripan bentuk dan model arsitektur dengan model dan bentuk arsitektur di Thailand serta Indonesia. Kolonis Eropa lebih mengenalkan kaca, serta material yang lain yang hingga akhirnya mengubah konsep arsitektur Malaysia.
Dalam soal kebudayaan Malaysia dalam bentuk musik, adanya pengaruh yang besar dari India, China, Thailand, dan Indonesia membuat musik tradisional Malaysia yang berpusat di wilayah Kelantan - Pattani memiliki banyak kemiripan dengan negara - negara tersebut. Alat musik yang digunakan terdiri dari gendang, seruling, terompet, serta rebana. Musik - musik tradisonal Malaysia masih sering diperdengarkan pada acara - acara ulang tahun, acara tahunan sebuah perusahaan, sampai pada digunakan sebagai backsound pada saat dongeng - dongeng adat digelar.

  1. SINGAPURA


Singapura nama resminya Republik Singapura, adalah sebuah negara pulau di lepas ujung selatan Semenanjung Malaya, 137 kilometres (85 mi) di utara khatulistiwa di Asia Tenggara. Negara ini terpisah dari Malaysia oleh Selat Johor di utara, dan dari Kepulauan Riau, Indonesia oleh Selat Singapura di selatan

Singapura adalah pusat keuangan terdepan keempat di dunia dan sebuah kota dunia kosmopolitan yang memainkan peran penting dalam perdagangan dan keuangan internasional. Pelabuhan Singapura adalah satu dari lima pelabuhan tersibuk di dunia.

Singapura ini kecil-kecil cabe rawit. Luas kotanya saja tidak lebih daripada Jakarta tapi menurut riset, negara Singapura merupakan negara termaju kedua di Benua Asia. Okay langsung masuk ke kebudayaan yang ada pada Singapura :

·                         Budaya jalan kaki Singapura

Di Singapura, sekitar 80% penduduknya lebih memilih jalan kaki kemana-mana. Memang faktor utama yang mendukung mereka berjalan kaki adalah karena Singapura merupakan negara kecil jadi dapat ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Namun, sebenarnya pemerintah Singapura lah yang berperan aktif dalam menerapkan budaya sehat berjalan kaki, pemerintah Singapura dengan sengaja menata kotanya dengan jalan-jalan kecil agar pengendara mobil mudah terjebak macet. Karenanya mereka akhirnya berpikir untuk berjalan kaki agar lebih cepat sampai tujuan.

Selain itu juga karena harga mobil di Singapura sangat mahal sekali haha. Jadi penduduk Singapura berpikil berkali-kali jika ingin membeli mobil. Dan sedikit info saja biaya parkir di sana hampir 7x lipat daripada biaya parkir kita di Jakarta. Itu merupakan trik dari pemerintah juga untuk menekan kemacetan. Andai Indonesia sekecil itu :'(



·                         Patung Merlion dan Esplanade

Ini memang bukanlah budaya dari Singapura, tapi kalau Anda ke Singapura tapi tidak mengunjungi tempat ini, Anda tidak benar-benar ke Singapura.

Dirancang oleh Mr. Fraser Brunner, anggota panitia suvenir dan kurator di Van Kleef Aquarium, kepala singa dari patung Merlion melambangkan singa yang terlihat oleh Pangeran Sang Nila Utama saat ia menemukan kembali Singapura di tahun 11 M, seperti yang tercantum dalam “Sejarah Melayu”. Ekor ikan sang Merlion melambangkan kota kuno Temasek (berarti “laut” dalam bahasa Jawa), nama Singapura sebelum sang Pangeran menamakannya “Singapura” (berarti “Kota Singa” dalam bahasa Sansekerta) dan juga melambangkan awal Singapura yang sederhana, yaitu sebagai perkampungan nelayan.

Esplanade – Theatres on the Bay adalah salah satu icon negara Singapura. Letaknya persis bersebelahan dengan Patung Merlion yang berada di Merlion Park. Ini adalah salah satu pusat seni tersibuk di dunia, dibuka resmi pada tanggal 12 Oktober 2002.


Di tahun 1992, terpilih sebuah tim yang terdiri dari perusahaan lokal terkenal DP Architects (Singapura) dan Michael Wilford & Partners (Inggris) untuk memulai pekerjaan pembangunan pusat seni tersebut. Untuk mempertahankan keterkaitan antara masa lalu dan masa kini, pusat seni ini akhirnya dinamakan Esplanade – Theatres on the Bay.

  1. LAOS


Republik Demokratik Rakyat Laos adalah negara yang terkurung daratan di Asia Tenggara, berbatasan dengan Myanmar dan Republik Rakyat Cina di sebelah barat laut, Vietnam di timur,Kamboja di selatan, dan Thailand di sebelah barat. Dari abad ke-14 hingga abad ke-18, negara ini disebut Lan Xang atau "Negeri Seribu Gajah".


Awal sejarah Laos didominasi oleh Kerajaan Nanzhao, yang diteruskan pada abad ke-14 oleh kerajaan lokal Lan Xang yang berlangsung hingga abad ke-18, setelah Thailand menguasai kerajaan tersebut. Kemudian Perancis menguasai wilayah ini di abad ke-19 dan menggabungkannya ke dalam Indochina Perancis pada 1893. Setelah penjajahan Jepang selama Perang Dunia II, negara ini memerdekakan diri pada 1949 dengan nama Kerajaan Laos di bawah pemerintahan Raja Sisavang Vong.

Keguncangan politik di negara tetangganya Vietnam membuat Laos menghadapi Perang Indochina Kedua yang lebih besar (disebut juga Perang Rahasia) yang menjadi faktor ketidakstabilan yang memicu lahirnya perang saudara dan beberapa kali kudeta. Pada 1975 kaum komunis Pathet Lao yang didukung Uni Soviet dan komunis Vietnam menendang pemerintahan Raja Savang Vatthana dukungan Amerika Serikat dan Perancis. Setelah mengambil alih negara ini, mereka mengganti namanya menjadi Republik Demokratik Rakyat Laos yang masih berdiri hingga saat ini. Laos mempererat hubungannya dengan Vietnam dan mengendurkan larangan ekonominya pada akhir dekade 1980an dan dimasukkan ke dalam ASEAN pada 1997.


KEBUDAYAAN
Agama Theravada telah banyak memengaruhi kebudayaan Laos. Pengaruhnya dapat terlihat pada bahasa, seni, sastra, Seni tari, dll. Musik Laos didominasi oleh alat musik nasionalnya, disebut khaen (sejenis pipa bambu). 


Sebuah kelompok musik umumnya terdiri dari penyanyi (mor lam) dan seorang pemain khaen (mor khaen) bersama pemain rebab dan pemain instrumen lain. Lam saravane adalah jenis musik terpopuler di antara musik-musik Laos, tetapi etnis Lao di Thailand telah mengembangkannya menjadi mor lam sing yang menjadi salah satu best-selling internasional.

Salah satu bukti penting dari kebudayaan Laos kuno terdapat di Dataran Guci.

  1. MYANMAR



 Sejarah Myanmar


Awal mula berdirinya negara Burma, diawali oleh kekuasaan Kerajaan Pagan yang dipmpin oleh Raja Anawratha pada Tahun 1044 yang hanya dapat bertahan hingga Tahun 1287 karena diserang oleh Ku Bhilai Khan dari kerajaan Tiongkok

.

Kerajaan itu kemudian menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Salah satu erajaan yang berhasil memperluas kekuasaanya adalah kerajaan Toungoo yang bahkan pernah menguasai seluruh wilayah Kerajaan Siam. Namun, karena pemberontakan dari mereka yang ingin memisahkan diri, Kerajaan Toungoo akhirnya kehabisan energi untuk melawan pemberontakan kerajaan Siam dan akhirnya terpecah belah kembali. Salah satu kerajaan yang kemudian muncul adalah Kerajaan Burma yan gmerupakan cikal bakal dari negara Burma modern seperti yang kita kenal sekarang. Kerajaan ini berkuasa semenjak Tahun 1753-1886. Sejarah Myanmar memang penuh dengan perang yang nyaris tanpa henti. Proses pembentukan Myanmar secara tradisional berlangsung tengah peperangan antar kelompok. Kondisi perang terus menerus ini membuat konsepsi keamanan nasional dipenuhi dengan beban upaya mempertahankan kesatuan nasional dari ancaman dalam dan luar negeri.


 Kebudayaan
Kebudayaan Myanmar banyak dipengaruhi oleh agama mayoritas yang dianut oleh mayarakatnya, yakni ajaran Budha. Ini terlihat dari banyaknya pagoda yang dapat kita jumpai hampir di setiap tempat di Myanmar. Masyarakatnya masih tergolong masyarakat tradisional dengan penduduk yang ramah dan masih kita jumpai banyak masyarakat yang masih memakai sarung dan mengisap rokok dengan cerutu. Salah satu pagoda terkenal yang sangat indah adalah Pagoda Shwedagon di Yangoon dan reruntuhan candi yang luas dari ibu kota lama Pagan adalah salah satu pemandangan paling menarik di dunia. Beberapa kesenian tradisional Myanmar adalah Bagan Period Dance yang hampir mirip dengan tarian tradisional Indonesia, namun gerakan mereka lebih gesit dan beragam.Belum banyak potensi pariwisata yang dapat dikembangkan di Myanmar. Salah satunya mungkin dikarenakan oleh konflik yang masih sering berkecamuk di negara itu serta kurangnya kepedulian pemerintah dalam meningkan potensi pariwisata di negara seribu pagoda itu.


Tarian Indonesia dan Myanmar punya Kemiripan

Sebagian besar tema tari-tarian dari Myanmar itu erat dengan kepercayaan dan mitos, yang juga menjadi ciri khas seni tari Indonesia. Bagian pertama tarian banyak terinsipirasi dari kehidupan istana dan dan kepercayaan masyarakat Myanmar. Kepercayaan masyarakat Myanmar tergambar dalam tarian penyambutan serta tarian Bagan yang terukir diatas pagoda tempat ibadah masyarakat dengan mayoritas agama Budha. Tarian mahkota, tarian Byaw-sejenis gendang menampilkan tarian gembira yang biasa ditampilkan di hadapan raja-raja dan petinggi istana. Tarian tiga era Myanmar yaitu periode Innwa, Konbaung, dan Yadanabon menampilkan perubahan gerakan hingga dandanan para penari dari tiga periode kekuasaan. Hiasan bertatah warna emas dan permata melengkapi busana tradisional yang dimodifikasi komtemporer. Sementara musik yang mengiringi tarian berasal dari lagu tradisional Myanmar dan lagu-lagu tradisional rakyat.










  1. VIETNAM



Vietnam (Bahasa Vietnam: Việt Nam), bernama resmi Republik Sosialis Vietnam (Cộng Hòa Xã Hội Chủ Nghĩa Việt Nam) adalah negara paling timur di Semenanjung Indochina di Asia Tenggara. Vietnam berbatasan dengan Republik Rakyat Tiongkok di sebelah utara, Laos di sebelah barat laut, Kamboja di sebelah barat daya dan di sebelah timur terbentang Laut China Selatan.[3]
Dengan populasi sekitar 84 juta jiwa, Vietnam adalah negara terpadat nomor 13 di dunia. Vietnam termasuk di dalam grup ekonomi "Next Eleven"; menurut pemerintah, GDP Vietnam tumbuh sebesar 8.17% pada tahun 2006, negara dengan pertumbuhan tercepat kedua di Asia Timur dan pertama di Asia Tenggara. Pada akhir tahun 2007, menteri keuangan menyatakan pertumbuhan GDP Vietnam diperkirakan mencapai rekor tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir sebesar 8.44%.,
vietnam juga di kenal sebagai negara komunis yang ada di asia tenggara namun di balik itu vietnam juga menyimpan kebudayaannya yang begitu amat luar biasa dengan beragam suku,bahasa,dan adat yang ada berikut ini saya akan mengulas sedikit dari kebudayaan dan kultur adat dari vietnam
SUKU BANGSA
Orang-orang Vietnam membentuk kelompok etnis terbesar, dan juga disebut Viet atau Kinh. Populasi mereka terkonsentrasi pada delta-delta endapan dan dataran rendah di tepi pantai. Kelompok sosial yang homogen, orang Kinh memengaruhi kehidupan nasional melalui kontrol mereka dalam urusan-urusan politik dan ekonomi dan peran mereka sebagai purveyor (orang yang menyediakan) kebudayaan yang dominan. Kontrasnya, kebanyakan etnis minoritas seperti orang Muong, etnis yang paling dekat hubungannya dengan orang Kinh, kebanyakan ditemukan di dataran tinggi yang meliputi dua pertiga luas keseluruhan negera. Orang Hoa (etnis Tionghoa) dan Khmer Krom kebanyakan tinggal di dataran rendah.

BAHASA
Menurut angka resmi, 86.2% populasi berbahasa Vietnam sebagai bahasa ibu. Pada sejarah awal, Orang Vietnam menulis dengan karakter Tionghoa. Pada abad ke 13, orang Vietnam mengembangkan karakter mereka sendiri yaitu Chu Nom. Epik yang selalu dirayakan Doan Truong Tan Thanh (Truyen Kieu atau The Tale of Kieu) oleh Nguyen Du ditulis dalam Chu Nom. Pada periode koloni Perancis, Quoc Ngu, romanisasi alfabet Vietnam berdasarkan bahasa Vietnam lisan dikembangkan secara bersama oleh beberapa misionaris Portugis, menjadi populer dan membawa kemampuan baca tulis kepada masyarakat luas. Beberapa bahasa lain digunakan dalam percakapan oleh beberapa grup-grup minoritas di Vietnam. Bahasa-bahasa tersebut adalah Tay, Muong (Hmong), Khmer, Tionghoa, Nung, Lolo, Man, Meo, Banahr, Rhade, Sedang, Ede, Thai. Meskipun pada kenyataannya kata-kata dalam Bahasa Vietnam mempunyai suku kata tunggal dan aksen tersendiri seperti dalam bahasa Tionghoa, banyak dari kata-katanya memiliki keserupaan bunyi dengan bahasa Melayu. Misalnya matahari (mặt trời), mata (mắt), tangan (tay), sungai (sông), kayu (cây dibaca kay), susu (sữa), buang (buông, quăng), ini (này), itu (đó), sudah (đã), sedang (đang) dan lain-lain. Bahasa Perancis, peninggalan masa kolonial, masih digunakan oleh orang-orang tua Vietnam sebagai bahasa kedua tetapi telah hilang kepopulerannya. Bahasa Rusia - bahkan yang kurang penting seperti Bahasa Ceko dan Polandia - sering dikenal di antara mereka yang keluarganya terikat dengan blok Soviet. Dalam beberapa tahun terakhir, bahasa Mandarin, Jepang, dan Inggris telah menjadi bahasa-bahasa asing paling populer, dengan bahasa Inggris menjadi sebagai pelajaran wajib di kebanyakan sekolah. Bahasa Indonesia juga diumumkan sebagai bahasa kedua secara resmi pada Desember 2007.

HARI RAYA
Tết Nguyên Đán (Hán nôm: 節元旦, "perayaan pagi pertama") atau lebih umum dikenal sebagai Tết, adalah perayaan tahun baru di Vietnam. Tahun baru Tết merupakan hari raya terpenting di Vietnam yang sudah dirayakan sejak tahun 500 SM.
Tahun baru Tết ditentukan berdasarkan perhitungan kalender Tionghoa dan banyak tradisi tahun baru Tết yang mirip dengan tradisi tahun baru Imlek. Hari raya Tết juga dirayakan bersamaan dengan tahun baru Imlek, walaupun tidak selalu dirayakan pada tanggal yang sama. Perbedaan zona waktu antara Hanoi dengan Beijing menyebabkan tanggal perayaan tahun baru Tết bisa terlambat 1-2 hari hingga di hari ke-3 bulan yang pertama. Orang Vietnam sudah bersiap-siap sejak beberapa minggu sebelumnya dengan memasak makanan istimewa dan membersihkan rumah. Di hari raya Tết, orang Vietnam pergi ke vihara dan mengunjungi sanak keluarga
  1. KAMBOJA
Suku di Kamboja (Cambodia)
Kamboja (Cambodia), adalah sebuah negara yang berada di daratan Indochina. Kamboja juga memiliki beragam etnis yang tersebar di seluruh Kamboja.
Suku bangsa Khmer adalah yang terbesar populasinya, sedangkan suku-suku yang berada di pegunungan (Hill Tribes) sebagai minoritas, diikuti suku bangsa pendatang seperti dari Vietnam, Burma, Thailand, Eropa, China, Jepang dan beberapa keturunan Melayu dari Malaysia.
Selain suku bangsa Khmer yang menjadi mayoritas, terdapat kelompok minoritas yang sebagian besar dalam kelompok bahasa Mon-Khmer, dan kelompok bahasa Austronesia. Mereka menempati dataran tinggi Kamboja, mereka kerap disebut sebagai "Hill Tribes". Kelompok mereka dikenal sebagai Khmer Loeu, yang memiliki populasi sebesar sekitar 550.000 orang
Asal usul kelompok suku dalam kelompok Khmer Loeu, tidak diketahui dengan pasti, tapi mereka percaya bahwa kelompok Khmer Loeu adalah bagian dari migrasi panjang orang-orang dari barat laut. Kelompok yang berbahasa Austronesia, seperti suku Rade dan suku Jarai, datang dari pesisir Vietnam dan kemudian bergerak ke barat, membentuk irisan antara beberapa kelompok Mon-Khmer. Kelompok Khmer Loeu, tersebar terutama di provinsi timur laut dari Ratanakiri, Stung Treng dan Mondulkiri. Pemerintah Kamboja menciptakan istilah "Khmer Loeu" yang berarti "Highland Khmer" pada tahun 1960 untuk menciptakan rasa persatuan antara kelompok suku di dataran tinggi dengan dataran rendah yang didominasi dan dikuasai etnis Khmer. Sebelumnya mereka ditetapkan sebagai "Montagnard' atau "Pribumi" oleh pemerintah kolonial Perancis.
Kelompok dataran tinggi, pada kenyataannya terkait dalam bahasa Khmer, tapi memiliki latar belakang bahasa dan budaya yang sangat berbeda.

Sejak dulu, agama menjadi sumber inspirasi utama bagi kebudayaan di Kamboja. Hampir selama dua milenium, Kamboja mengembangkan kepercayaan Khmer yang merupakan gabungan antara kepercayaan animisme, agama Buddha, dan agama Hindu. Kultur dari India—termasuk bahasa dan kesenian—dibawa oleh orang India ke Asia Tenggara sekitar abad pertama masehi. Saat ini, budaya di Kamboja dipromosikan dan dikelola oleh Kementerian Kebudayan dan Kesenian Kamboja.
1. Sejarah Kebudayaan Kamboja
Masa keemasan Kamboja adalah antara abad ke-9 dan ke-14 masehi dibawah periode kerajaan Angkor, dimana pada saat itu merupakan kerajaan yang kuat dan sejahtera yang berhasil menguasai hampir seluruh wilayah daratan Asia Tenggara. Namun, kerajaan Angkor runtuh akibat perebutan kekuasaan dan perang melawan kerajaan yang berada di dekatnya seperti Siam dan Dai Viet. Banyak candi yang dibangun pada masa itu seperti Bayon dan Angkor Wat masih ada hingga sekarang. Candi-candi tersebut tersebar di Thailand, Kamboja, Laos, dan Vietnam yang mengingatkan kita kepada kemegahan senidan budaya Khmer. Seni, arsitektur, musik, dan tarian yang ada di Kamboja sekarang telah mendapat banyak pengaruh dari banyak kerajaan lain seperti Thailand dan Laos. Efek dari kultur Angkor masih dapat dilihat hingga kini di beberapa negara, kultur tersebut memiliki banyak kedekatan dengan Kamboja sekarang.
2. Arsitektur dan Rumah di Kamboja
Arsitek dan pemahat Kamboja membuat candi yang terbuat dari batu. Dekorasi Khmer terinspirasi dari agama. Dewa-dewa dari agama Hindu dan Buddha terukir pada tembok. Candi/kuil dibuat sesuai dengan aturan arsitektur Khmer Kuno yang terdiri dari susunan candi biasa ditambah dengan satu candi yang tampak mencolok ditengahnya, sebuah tembok, dan sebuah parit. Motif Khmer menggunakan banyak dewa dari mitologi Buddha dan Hindu. Contohnya seperti istana kerajaan di Phnom Penh yang menggunakan motif garuda yang merupakan burung mitologi dalam agama Hindu. Hanya sedikit bangunan yang tersisa sejak masa kerajaan Khmer. Yang tersisa hanyalah bangunan religius yang terbuat dari batu seperti candi Angkor.
Dalam kebudayaan modern Kamboja, sebuah keluarga biasanya tinggal di bangunan berbentuk petak dengan ukuran bervariasi mulai dari 4 X 6 meter hingga 6 X 10 meter. Bangunan tersebut terbuat dari bambu. Rumah Khmer biasanya berpanggung dengan ketinggian tiga meter diatas permukaan tanah untuk melindungi isi rumah dari banjir. Tangganya terbuat dari kayu. Sebuah rumah biasanya terdiri dari tiga ruangan yang dibatasi oleh bambu. Ruangan depan dijadikan ruang tamu, ruangan kedua dijadikan kamar tidur orangtua, dan ruangan ketiga dijadikan kamar tidur bagi putrinya yang belum menikah. Anak laki-laki tidur dimanapun mereka mendapatkan tempat. Anggota keluarga bersama tetangga bergotong-royong membangun rumah, serta diadakan suatu upacara bagi rumah yang baru selesai dibangun. Rumah bagi keluarga yang kurang mampu biasanya hanya terdiri dari satu ruangan besar. Dapur biasanya terletak di belakang rumah. Kamar mandi biasanya berada di sungai yang ditutupi oleh triplek. Kandang ternak biasanya dibuat dibawah rumah. Rumah orang Tionghoa dan Vietnam di kota maupun desa di Kamboja biasanya tidak berpanggung dan berlantai semen atau keramik. Rumah kaum urban dan bangunan komersial biasanya terbuat dari batu bata, beton, atau kayu.
3. Agama di Kamboja
Penduduk di Kamboja didominasi oleh penganut agama Buddha dengan 90% populasi menganut Buddha Theravada. Terdapat 1% populasi pemeluk agama Kristen dan sisanya beragama Islam, atheis, atau penganut kepercayaan animisme.
Agama Buddha telah ada di Kamboja sejak abad ke-5 masehi. Buddha Theravada telah ada di Kamboja sejak abad ke-13 masehi dan kini telah dianut oleh 90% populasi di Kamboja.
Islam adalah agama yang mayoritas dianut oleh kaum Cham (disebut juga Khmer Islam) dan minoritas kaum Melayu di Kamboja. Berdasarkan data dari Po Dharma, terdapat 150.000 sampai 200.000 penduduk Muslim di Kamboja pada tahun 1975. Semuanya menganut aliran Sunni.
Kristen dibawa ke Kamboja oleh misionaris Katholik Roma pada tahun 1660. Pada tahun 1972, terdapat sekitar 20.000 kaum Kristiani di Kamboja, kebanyakan dari mereka adalah Katholik Roma. Berdasarkan statistik dari Vatikan, pada tahun 1953, anggota Gereja Katholik Roma di Kamboja berjumlah 120.000. Hal itu membuatnya menjadi agama terbesar kedua di negara ini. 50.000 diantaranya adalah orang Vietnam dan sisanya kebanyakan orang Eropa. Berdasarkan sensus tahun 1962, terdapat 2.000 pemeluk agama Kristen Protestan di Kamboja. Terdapat sekitar 20.000 pemeluk agama Kristen Katholik di Kamboja dimana hanya 0,15% dari total populasi.
Terdapat 100.000 orang yang menganut aliran kepercayaan daerah. Seperti kaum Khmer Loeu yang menganut animisme. Mereka menggunakan nasi, air, api, batu, dll untuk melangsungkan ritual. Kaum ini biasanya menganggap tabu beberapa objek dan praktek.
4. Kehidupan di Kamboja
4.1. Ritual Kelahiran dan Kematian di Kamboja
Kelahiran bayi adalah saat yang membahagiakan bagi keluarga. Berdasarkan kepercayaan tradisional, mereka (ibu dan bayi) akan dikurung karena mereka sangat rentan terhadap dunia mistik. Seorang ibu yang meninggal saat melahirkan bayinya dipercaya akan menjadi roh yang jahat. Dalam masyarakat Khmer tradisional, wanita hamil dianggap tabu memakan beberapa makanan dan harus menghindari beberapa situasi. Tradisi ini masih berlangsung di pedesaan, namun mulai berkurang di daerah perkotaan.
Kematian tidak dilihat dengan penuh kesedihan disini; tetapi dilihat sebagai akhir dari sebuah hidup dan merupakan awal dari kehidupan selanjutnya yang diharapkan akan lebih baik dari sebelumnya. Kaum Khmer Buddha biasanya mengkremasi dan debunya disimpan di dalam sebuah stupa di dalam candi. Bendera panji putih dikibarkan—yang disebut “bendera buaya putih”—di luar rumah, yang menandakan ada seseorang di dalam rumah tersebut yang telah meninggal. Prosesi pemakaman dihadiri oleh biksu Buddha, anggota keluarga, dan kerabat yang berduka. Suami/istri dan anaknya yang ditinggalkan berduka dengan cara mencukur kepalanya dan mengenakan pakaian putih.
4.2. Masa Kecil dan Masa Remaja di Kamboja
Anak kecil di Kamboja dirawat sampai usia dua atau empat tahun. Sampai usia tiga atau empat tahun, anak diberi kasih sayang dan kebebasan. Permainan anak-anak lebih menekankan pada sosialisasi atau kemampuan ketimbang menang atau kalah.
Kebanyakan anak mulai bersekolah pada usia tujuh atau delapan. Ketika dia mencapai usia ini, mereka harus mengetahui norma kesopanan, kepatuhan, dan hormat kepada yang lebih tua dan kepada biarawan Buddha (biksu). Ayahnya bertugas untuk mengontrol anaknya dan memberikan izin kepada anaknya. Saat usia sepuluh tahun, anak perempuan membantu ibunya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan rumah tangga; sedangkan anak laki-laki tahu bagaimana menjaga ternak mereka dan mampu berladang bersama laki-laki lain yang lebih tua.
Para remaja biasanya bermain dengan temannya yang sesama jenis kelamin. Selama masa remajanya, laki-laki biasanya menjadi pelayan di Wihara dan menjadi calon biarawan, dimana hal itu merupakan suatu kehormatan besar untuk orangtuanya. Orangtua memiliki wewenang penuh terhadap anaknya sampai mereka menikah, dan orangtuanya tetap mengendalikan beberapa kontrol saat pernikahan.
4.3. Pacaran, Perkawinan, dan Perceraian di Kamboja
Memilih teman hidup adalah hal yang kompleks bagi laki-laki muda, dan itu mungkin melibatkan tidak hanya orangtuanya dan temannya, tetapi juga “mak comblang” dan Haora. Secara teori, perempuan dapat menolak pasangan yang dipilih orangtuanya. Pola pacaran berbeda antara orang Khmer di desa dan di kota; cinta yang romantis merupakan kebiasaan yang ada di kebanyakan kota-kota besar. Laki-laki biasanya menikah antara usia 19 sampai 25 tahun, sedangkan perempuan antara 16 sampai 22 tahun. Setelah pasangan dipilih, masing-masing keluarga saling menyelidiki satu sama lain untuk meyakinkan bahwa anaknya akan menikah bersama pasangan yang memiliki keluarga yang baik. Di pedesaan, terdapat bentuk jasa pengantin wanita; artinya, laki-laki muda bersumpah akan melayani ayah tirinya dalam jangka beberapa waktu.
Pernikahan tradisional adalah perayaan yang panjang dan berwarna. Dulunya, itu berlangsung tiga hari, tetapi pada tahun 1980-an itu berlangsung selama satu hari atau setengah hari. Pendeta Buddha melakukan upacara singkat dan mengucapkan beberapa doa. Bagian dari perayaan ini melibatkan ritual memotong rambut, mengikatkan kapas yang sudah dicelupkan ke dalam air suci pada pergelangan tangan pengantin pria dan wanita, dan melewati lilin yang ada di sekitar pasangan yang telah menikah serta memberkati pasangan tersebut sebagai satu kesatuan. Setelah pernikahan, dilakukan acara jamuan makan. Pasangan yang baru menikah secara tradisional akan tinggal bersama keluarga istri dan mungkin akan tinggal bersama mereka selama setahun, sampai mereka dapat membangun rumah baru.
Perceraian adalah legal dan relatif mudah untuk dilakukan, namun hal ini tidak umum dilakukan. Orang yang bercerai akan dilihat dengan beberapa ketidaksenangan. Masing-masing pasangan akan mempertahankan properti yang dia beli saat pernikahan, dan kepemilikannya akan dibagi menjadi dua. Hak asuh anak biasanya akan diberikan kepada ibunya, dan kedua keluarganya tetap menyumbang sejumlah uang untuk melanjutkan pendidikan anaknya. Pria yang telah bercerai dia memiliki masa menunggu sampai dia dapat menikah kembali.
Pada kenyataannya, hingga kini mayoritas orang Kamboja yang telah menikah tidak memiliki akta pernikahan yang legal. Walaupun pasangan tersebut telah menyelenggarakan upacara dan pesta pernikahan. Tetapi mereka dianggap tidak menikah secara legal. Begitu juga saat bercerai, mereka biasanya tidak memerlukan surat gugatan cerai.
5. Pakaian di Kamboja
Pakaian di Kamboja adalah salah satu aspek penting dari budaya di Kamboja. Mode orang Kamboja berbeda-beda tergantung pada suku etnis dan status sosial. Orang Khmer secara tradisional mengenakan syal kotak-kotak yang disebut Krama. “Krama” membedakan orang-orang Khmer (Kamboja) dengan tetangganya seperti orang Thai, orang Vietnam, dan orang Laos. Syal tersebut digunakan untuk beragam fungsi seperti gaya, melindungi dari matahari, dan sebagai pelindung (untuk kaki) saat mendaki pohon, membantu menggendong bayi, sebagai handuk, atau sebagai sarung. Krama dapat dengan mudah diubah menjadi boneka untuk dimainkan anak-anak.
Kain tradisional yang dikenal sebagai Sampot, adalah sebuah kostum yang terkena pengaruh dari India pada era Funan. Pakaian Khmer telah berubah seiring dengan waktu dan agama. Pada masa transisi dari era Funan ke era Angkor, terdapat pengaruh Hindu yang kuat pada pakaian di Kamboja dimana orang-orang menyukai Sampot termasuk Sarong Kor (perhiasan) yang merupakan simbol agama Hindu.
Ketika agama Buddha menggantikan agama Hindu, orang-orang Khmer mulai mengenakan blus, kemeja, dan celana. Tentunya sesuai gaya Khmer. Orang Khmer, termasuk rakyat dan keluarga kerajaan, berhenti memakai kerah bergaya Hindu dan mulai mengadopsi syal yang telah diberi dekorasi. Style ini populer pada periode Udong.
Perempuan Khmer biasa memilih warna yang pas untuk Sampot-nya berdasarkan hati nurainya sendir atau mengikuti trend yang ada.
Beberapa orang Kamboja selalu memakai pakaian bergaya religius. Beberapa pria dan wanita Khmer mengenakan bandul Buddha pada kalungnya. Fungsinya adalah untuk menjaga dari roh jahat dan membawa keberuntungan.
Keluarga kerajaan biasa mengenakan pakaian yang mahal. Sampot masih digunakan dikalangan kerajaan. Kebanyakan mereka memilih Sampot Phamuong, edisi baru dari sampot yang digunakan oleh orang Thai pada abad ke-17. Sejak periode Udong, keluarga kerajaan mempertahankan kebiasaan mereka dalam berpakaian. Mereka yang perempuan membuat pakaian yang sangat atraktif. Para wanita selalu mengenakan penutup bahu tradisional yang disebut sbai atau rabai kanorng.
Para penari mengenakan kerah yang disebut Sarong Kor di sekitar lehernya. Yang terpenting, mereka mengenakan gaun unik yang disebut Samprot sara-bhap yang terbuat dari kain sutra yang dijahit dengan menggunakan benang emas atau perak. Gaun tersebut mengkilap, dengan desain yang rumit, dan berkelip-kelip saat penari tersebut bergerak. Penari juga menggunakan sabuk yang diisi batu mulia. Banyak perhiasan yang digunakan oleh penari wanita. Seperti anting-anting, sepasang gelang, hiasan pada mata kaki, dll.
7. Seni dan Sastra di Kamboja
7.1. Seni Rupa di Kamboja
Sejarah seni rupa di Kamboja dapat dilihat dari jaman kuno. Seni di Kamboja mencapai puncaknya saat periode Angkor. Seni dan kerajinan tradisional Kamboja dapat berupa tekstil, tenunan, kerajinan perak, pahatan batu, keramik, lukisan, dan layang-layang. Pada pertengahan abad ke-20, seni modern muncul di Kamboja. Seniman mendapat dukungan dari pemerintah dan wisatawan.
7.2. Musik di Kamboja
Antara tahun 60-70an, penyanyi duet Sinn Sisamouth dan Ros Serey Sothea mendapat banyak hit di negara ini. Setelah mereka meninggal, bintang musik baru berusaha untuk membawa kembali musik. Musik Kamboja telah mendapat banyak pengaruh dari budaya Barat.
Musik tradisional Kamboja biasanya terdengar saat perayaan di pagoda, saat mengadakan suatu ritual, atau sebagai musik teater. Musik ini dibunyikan oleh beberapa alat seperti roneat ek (silofon utama), roneat thung (seruling), kong vong touch dan kong vong thom (gong kecil dan besar), sampho (gendang), skor thom (dua drum besar), dan sralai.
7.3. Tarian di Kamboja
Tari di Kamboja dapat dibagi menjadi tiga kategori utama: tarian klasik, tarian daerah, dan tarian tidak resmi.
Tarian klasik Khmer adalah bentuk tarian Kamboja yang hanya dipertunjukan untuk kerajaan. Tarian ini memiliki banyak elemen dari tarian klasik Thai. Pada pertengahan abad ke-20, tarian ini dipertunjukan kepada publik dimana ini menjadi simbol dari kebudayaan Khmer. Dan dipertunjukan saat ada kegiatan publik, liburan, dan untuk wisatawan yang berkunjung ke Kamboja. Tarian klasik dikenal akan penggunaan tangan dan kaki untuk mengekspresikan emosinya dimana terdapat sekitar 4.000 gerakan berbeda pada tarian ini. Tarian ini dikenal menjadi The Royal Ballet of Cambodia (Tari Balet Kerajaan Kamboja) setelah ditetapkan menjadi warisan budaya UNESCO pada tahun 1960-an. Cerita Ramayana memberi pengaruh kuat terhadap tarian klasik Khmer dilihat dari gerakan dan alur cerita.
Tari Apsara adalah tarian Khmer yang masih ada sejak era Angkor. Tarian ini menarik wisatawan dan membuat budaya Khmer dikenal dunia. Tarian Apsara dipromosikan oleh Norodom Buppha Devi dan menjadi salah satu simbol dari Kamboja.
Tarian daerah Khmer memiliki gerakan yang tidak seanggun tarian klasik Khmer. Penari mengenakan busana yang sesuai dengan yang dia perankan seperti Chams, kepala suku, petani, dan petani miskin. Tarian ini diiringi oleh musik yang dimainkan oleh orkestra mahori.
Tarian tidak resmi Kamboja (atau tarian sosial) ditarikan saat acara sosial. Macam-macam tariannya termasuk Romvong, Rom Kbach, Rom Saravan, dan Lam Leav. Beberapa dari tarian tersebut mendapat banyak pengaruh dari tarian tradisional Laos. Tari Rom Kbach mendapat banyak pengaruh dari tarian klasik kerajaan. Tarian lainnya yang mendapat pengaruh dari globalisasi adalah Cha-Cha, Bolero, dan Madison.
  1. BRUNEI DAARUSSALAM
Silsilah kerajaan Brunei didapatkan pada Batu Tarsilah yang menuliskan Silsilah Raja-Raja Brunei yang dimulai dari Awang Alak Betatar, raja yang mula-mula memeluk agama Islam (1368) sampai kepada Sultan Muhammad Tajuddin (Sultan Brunei ke-19, memerintah antara 1795-1804 dan 1804-1807).
Brunei adalah sebuah negara tua di antara kerajaan-kerajaan di tanah Melayu. Keberadaan Brunei Tua ini diperoleh berdasarkan kepada catatan Arab, Cina dan tradisi lisan. Dalam catatan Sejarah Cina dikenal dengan nama Po-li, Po-lo, Poni atau Puni dan Bunlai. Dalam catatan Arab dikenali dengan Dzabaj atau Randj.
Catatan tradisi lisan diperoleh dari Syair Awang Semaun yang menyebutkan Brunei berasal dari perkataan baru nah yaitu setelah rombongan klan atau suku Sakai yang dipimpin Pateh Berbai pergi ke Sungai Brunei mencari tempat untuk mendirikan negeri baru. Setelah mendapatkan kawasan tersebut yang memiliki kedudukan sangat strategis yaitu diapit oleh bukit, air, mudah untuk dikenali serta untuk transportasi dan kaya ikan sebagai sumber pangan yang banyak di sungai, maka mereka pun mengucapkan perkataan baru nah yang berarti tempat itu sangat baik, berkenan dan sesuai di hati mereka untuk mendirikan negeri seperti yang mereka inginkan. Kemudian perkataan baru nah itu lama kelamaan berubah menjadi Brunei.
Replika stupa yang dapat ditemukan di Pusat Sejarah Brunei menjelaskan bahwa agama Hindu-Buddha pada suatu masa dahulu pernah dianut oleh penduduk Brunei. Sebab telah menjadi kebiasaan dari para musafir agama tersebut, apabila mereka sampai di suatu tempat, mereka akan mendirikan stupa sebagai tanda serta pemberitahuan mengenai kedatangan mereka untuk mengembangkan agama tersebut di tempat itu. Replika batu nisan P’u Kung Chih Mu, batu nisan Rokayah binti Sultan Abdul Majid ibni Hasan ibni Muhammad Shah Al-Sultan, dan batu nisan Sayid Alwi Ba-Faqih (Mufaqih) pula menggambarkan mengenai kedatangan agama Islam di Brunei yang dibawa oleh musafir, pedagang dan mubaligh-mubaliqh Islam, sehingga agama Islam itu berpengaruh dan mendapat tempat baik penduduk lokal maupun keluarga kerajaan Brunei.
Islam mulai berkembang dengan pesat di Kesultanan Brunei sejak Syarif Ali diangkat menjadi Sultan Brunei ke-3 pada tahun 1425 M. Sultan Syarif Ali adalah seorang Ahlul Bait dari keturunan / pancir dari Cucu Rasulullah Shalallahualaihi Wassallam yaitu Amirul Mukminin Hasan / Syaidina Hasan sebagaimana yang tercantum dalam Batu Tarsilah / prasasti dari abad ke-18 M yang terdapat di Bandar Sri Begawan, Brunei. Keturunan Sultan Syarif Ali ini kemudian juga berkembang menurunkan Sultan-Sultan disekitar wilayah Kesultanan Brunei yaitu menurunkan Sultan-Sultan Sambas dan Sultan-Sultan Sulu.
Kebudayaan Brunei Darussalam
 Brunei Darussalam adalah negara dengan multi etnis, dimana etnis-etnis tersebut tergabungdalam satu kelompok etnis yang bernama Barunay. Keragaman yang ada dalam etnis-etnis yangberbeda tersebut bukanlah terletak pada aspek agama, melainkan budaya, sosial, dan bahasa.Pribumi Brunei yang beragama Islam lebih cenderung menjadi Brunei Malays, walaupun merekasepenuhnya tidak berbicara bahasa Melayu.Perkiraan penduduk tahun 1998  menyatakan bahwa Brunei Darussalam memiliki penduduksebanyak 323.600 jiwa. 67% dari penduduk Brunei Darussalam berasal dari etnis Melayu; 15%beretnis Cina; 6% dari masyarakat adat lain (Iban, Dayak, dan Kelabit), dan etnis lain sebanyak12%. Pada akhir 1980-an, 24.500 imigran  bekerja rata-rata  di industri perminyakan. Populasitelah meningkat lebih dari dua belas kali lipat sejak dekade pertama abad kedua puluh. Distribusipopulasi   Brunei-Muara  sebanyak   66%;   Belaitsebanyak   20%;   Tutong  sebanyak   11%,   danTemburong sebanyak 3%.Melayu adalah bahasa resmi Brunei Darussalam, namun bahasa Inggris telah digunakan secaraluas terutama dalam perdagangan. Bahasa lain seperti bahasa Mandarin dan bahasa Filipina jugamenjadi   bahasa   yang   banyak   digunakan   oleh   masyarakat   Brunei   Darussalam.  Benderanasionalnya adalah warna kuning dengan dua trapesium dan jajar genjang diagonal putih stripyang berada di atas jajaran genjang diagonal strip hitam
  1. INDONESIA
Indonesia merupakan negara kepulauan yang penuh dengan kekayaan serta keragaman budaya, ras, suku bangsa, kepercayaan, agama, bahasa daerah, dan masih banyak lainnya. Meskipun penuh dengan keragaman budaya, Indonesia tetap satu sesuai dengan semboyan nya, Bhineka Tunggal Ika yang artinya "meskipun berbeda-beda tetapi tetap satu jua". Keragaman budaya turut serta didukung oleh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terpisah wilayah-wilayahnya oleh lautan.
Keragaman merupakan suatu kondisi pada kehidupan masyarakat. Perbedaan seperti itu ada pada suku bangsa, agama, ras, serta budaya. Keragaman yang ada di Indonesia adalah kekayaan dan keindahan bangsa indonesia. Pemerintah harus bisa mendorong keberagaman tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional menuju indonesia yang lebih baik.
A.  Keberagaman dalam Masyarakat Indonesia
1.   Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Indonesia
Keberagaman masyarakat Indonesia disebabkan oleh beberapa hal adalah sebagai berikut :
1.    Keadaan geografis
Indonesia merupakan negara kesatuan yang memiliki beribu-ribu pulau yang dipisahkan oleh selat dan laut. Ini merupakan kondisi lingkungan geografis Indonesia. Lingkungan geografis semacam itu menjadi sumber adanya keanekaragaman suku, budaya, ras dan golongan  Indonesia.
2.    Pegaruh kebudayaan asing
Adanya kontak dan komunikasi dengan para pedagang asing yang memiliki corak budaya dan agama yang berbeda menyebabkan terjadinya proses akulturasi unsur kebudayaan dan agama.
3.    Kondisi iklim dan kondisi alam yang berbeda
Kondisi iklim seperti perbedan musim hujan dan kemarau antar daerah, serta perbedaan kondisi alam seperti pantai, pegunungan mengakibatkan perbedaan pada masyarakat.

2. Keanekaragaman Suku Bangsa di Indonesia
Sejak zaman dahulu bangsa Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang majemuk. Hal ini tercermin dari semboyan “Bhinneka tunggal Ika” yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu. Kemajemukan yang ada terdiri atas keragaman suku bangsa, budaya, agama, ras, dan bahasa.
Suku bangsa adalah golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Orang-orang yang tergolong dalam satu suku bangsa tertentu, pastilah mempunyai kesadaran dan identitas diri terhadap kebudayaan suku bangsanya, misalnya dalam penggunaan bahasa daerah serta mencintai kesenian dan adat istiadat.
Suku-suku bangsa yang tersebar di Indonesia merupakan warisan sejarah bangsa, persebaran suku bangsa dipengaruhi oleh factor geografis, perdagangan laut, dan kedatangan para penjajah di Indonesia. Perbedaan suku bangsa satu dengan suku bangsa yang lain di suatu daerah dapat terlihat dari ciri-ciri berikut ini.
a.   Tipe fisik, seperti warna kulit, rambut, dan lain-lain.
b. Bahasa yang dipergunakan, misalnya Bahasa Batak, Bahasa Jawa, Bahasa Madura, dan lain-lain.
c.   Adat istiadat, misalnya pakaian adat, upacara perkawinan, dan upacara kematian.
d. Kesenian daerah, misalnya Tari Janger, Tari Serimpi, Tari Cakalele, dan Tari Saudati.
e.  Kekerabatan, misalnya patrilineal (sistem keturunan menurut garis ayah) dan matrilineal (sistem keturunan menurut garis ibu).
f.   Batasan fisik lingkungan, misalnya Badui dalam dan Badui luar.
Berikut ini contoh persebaran suku bangsa di Indonesia:
1. Nanggroe Aceh Darussalam : suku Aceh, suku Alas, suku Gayo, suku Kluet, suku Simelu, suku Singkil, suku Tamiang, suku Ulu .
2. Sumatera Utara : suku Karo, suku Nias, suku Simalungun, suku Mandailing, suku Dairi, suku Toba, suku Melayu, suku PakPak, suku maya-maya
3. Sumatera Barat : suku Minangkabau, suku Mentawai, suku Melayu, suku guci, suku jambak
4. Riau : Melayu, Siak, Rokan, Kampar, Kuantum Akit, Talang Manuk, Bonai, Sakai, Anak Dalam, Hutan, Laut .
5. Kepulauan Riau : Melayu, laut
6. Bangka Belitung : Melayu
7.   Jambi : Batin, Kerinci, Penghulu, Pewdah, Melayu, Kubu, Bajau .
8. Sumatera Selatan : Palembang, Melayu, Ogan, Pasemah, Komering, Ranau Kisam, Kubu, Rawas, Rejang, Lematang, Koto, Agam
9.   Bengkulu : Melayu, Rejang, Lebong, Enggano, Sekah, Serawai, Pekal, Kaur, Lembak
10. Lampung : Lampung, Melayu, Semendo, Pasemah, Rawas, Pubian, Sungkai, Sepucih
11. DKI Jakarta : Betawi
12. Banten : Jawa, Sunda, Badui
13. Jawa Barat : Sunda,
14. Jawa Tengah : Jawa, Karimun, Samin, Kangean
15. D.I.Yogyakarta : Jawa
16. Jawa Timur : Jawa, Madura, Tengger, Asing
17. Bali : Bali, Jawa, Madura
18. NTB : Bali, Sasak, Bima, Sumbawa, Mbojo, Dompu, Tarlawi, Lombok
19. NTT : Alor, Solor, Rote, Sawu, Sumba, Flores, Belu, Bima
20. Kalimantan Barat : Melayu, Dayak (Iban Embaluh, Punan, Kayan, Kantuk, Embaloh, Bugan,Bukat), Manyuke
21. Kalimantan Tengah : Melayu, Dayak (Medang, Basap, Tunjung, Bahau, Kenyah, Penihing, Benuaq), Banjar, Kutai, Ngaju, Lawangan, Maayan, Murut, Kapuas
22. Kalimantan Timur : Melayu, Dayak(Bukupai, Lawangan, Dusun, Ngaju, Maayan)
23. Kalimantan Selatan : Melayu, Banjar, Dayak, Aba
24. Sulawesi Selatan : Bugis, Makasar, Toraja, Mandar
25. Sulawesi Tenggara : Muna, Buton,Totaja, Tolaki, Kabaena, Moronehe, Kulisusu, Wolio
26. SulawesiTengah : Kaili, Tomini, Toli-Toli,Buol, Kulawi, Balantak, Banggai,Lore
27. Sulawesi Utara : Bolaang-Mongondow, Minahasa, Sangir, Talaud, Siau, Bantik
28. Gorontalo : Gorontalo
29. Maluku : Ambon, Kei, Tanimbar, Seram, Saparua, Aru, Kisar
30. Maluku Utara : Ternate, Morotai, Sula, taliabu, Bacan, Galela
31. Papua Barat : Waigeo, Misool, Salawati, Bintuni, Bacanca
32. Papua Tengah : Yapen, Biak, Mamika, Numfoor
33. Papua Timur : Sentani, Asmat, Dani, Senggi

3. Keanekaragaman Budaya Bangsa di Indonesia
Bangsa Indonesia mempunyai keanekaragaman budaya. Tiap daerah atau masyarakat mempunyai corak dan budaya masing-masing yang memperlihatkan ciri khasnya. Hal ini bisa kita lihat dari berbagai bentuk kegiatan sehari-hari, misalnya upacara ritual, pakaian adat, bentuk rumah, kesenian, bahasa, dan tradisi lainnya. Contohnya adalah pemakaman daerah Toraja, mayat tidak dikubur dalam tanah tetapi diletakkan dalam goa. Di daerah Bali, mayat dibakar(ngaben).
Lingkungan tempat tinggal mempengaruhi bentuk rumah tiap suku bangsa.  Rumah adat di Jawa dan di Bali biasanya dibangun langsung di atas tanah. Sementara rumah-rumah adat di luar Jawa dan Bali dibangun di atas tiang atau disebut rumah panggung. Alasan orang membuat rumah panggung antara lain untuk meghindari banjir dan menghindari binatang buas. Kolong rumah biasanya dimanfaatkan untuk memelihara ternak dan menyimpan barang. Keanekaragaman budaya dapat dilihat dari bermacam-macam bentuk rumah adat.
Berikut ini beberapa contoh rumah adat.
1.   Rumah Bolon (Sumatera Utara).
2.   Rumah Gadang (Minangkabau, Sumatera Barat).
3.   Rumah Joglo (Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur).
4.   Rumah Lamin (Kalimantan Timur).
5.   Rumah Bentang (Kalimantan Tengah).
6.   Rumah Tongkonan (Sulawesi Selatan).
7.   Rumah Honai (Rumah suku Dani di Papua).

Setiap suku bangsa mempunyai upacara adat dalam peristiwa-peristiwa penting kehidupan. Misalnya upacara-upacara kelahiran, penerimaan menjadi anggota suku, perkawinan, kematian, dan lain-lain. Nama dan bentuk upacara menandai peristiwa kehidupan itu berbeda-beda dalam masing-masing suku.
Beberapa contoh upacara adat yang dilakukan suku-suku di Indonesia antara lain sebagai berikut.
1.   Mitoni, tedhak siti, ruwatan, kenduri, grebegan (Suku Jawa).
2.   Seren taun (Sunda).
3.   Kasodo (Tengger).
4.   Nelubulanin, ngaben (Bali).
5.   Rambu solok (Toraja).
Contoh lagu-lagu daerah sebagai berikut.
1.   Nangroe Aceh Darussalam Piso Surit
2.   Sumatera Utara Lisoi, Sinanggar Tullo, Sing Sing So, Butet
3.   Sumatera Barat Kambanglah Bungo, Ayam Den Lapeh, Kampuang Nan Jauh di Mato
4.   Riau Soleram
5.   Sumatera Selatan Dek Sangke, Tari Tanggai, Gendis Sriwijaya
6.   Jakarta Jali-jali, Kicir-kicir, Surilang
7.  Jawa Barat Bubuy Bulan, Cing Cangkeling, Manuk Dadali, Sapu Nyere Pegat Simpai
8.   Jawa Tengah Gundul-gundul Pacul, Gambang Suling, Suwe Ora Jamu, Pitik Tukung, Ilir-ilir,
9.  Jawa Timur Rek Ayo Rek, Turi-turi Putih
10.    Madura Karaban Sape, Tanduk Majeng
11.    Kalimantan Barat Cik Cik Periok
12. Kalimantan Tengah Naluya, Kalayar, Tumpi Wayu
13. Kalimantan Selatan Ampar Ampar Pisang, Paris Barantai
14. Sulawesi Utara Si Patokaan, O Ina Ni Keke, Esa Mokan
15. Sulawesi Selatan Anging Mamiri, Ma Rencong, Pakarena
16. Sulawesi Tengah Tondok Kadadingku
17. Bali Dewa Ayu, Meyong-meyong, Macepetcepetan, Janger, Cening Putri Ayu.
18. NTT Desaku, Moree, Pai Mura Rame, Tutu Koda, Heleleu Ala De Teang,
19. Maluku Kole-Kole, Ole Sioh, Sarinande, Waktu Hujan Sore-sore, Ayo Mama, Huhatee
20. Papua Apuse, Yamko Rambe Yamko

Contoh Tari-tarian Tradisional Indonesia
1.      Nangroe Aceh Darussalam Tari Seudati, Saman, Bukat
2.      Sumatera Utara Tari Serampang, Baluse, Manduda
3.      Sumatera Barat Tari Piring, Payung, Tabuik
4.      Riau Tari Joget Lambak, Tandak
5.      Sumatera Selatan Tari Kipas, Tanggai, Tajak
6.      Lampung Tari Melinting, Bedana
7.      Bengkulu Tari Adum, Bidadari
8.      Jambi Tari Rangkung, Sekapur Sirih
9.      Jakarta Tari Yapong, Serondeng, Topeng
10.   Jawa Barat Tari Jaipong, Merak, Patilaras
11.   Jawa Tengah-Yogyakarta Tari Bambangan Cakil, Enggot-enggot, Bedaya, Beksan,
12.   Jawa Timur Tari Reog Ponorogo, Remong
13.   Bali Tari Legong, Arje, Kecak
14.   Nusa Tenggara Barat Tari Batunganga, Sampari
15.   Nusa Tenggara Timur Tari Meminang, Perang

Contoh Seni Pertunjukan yang Ada di Indonesia
1.   Banten: Debus
2.   DKI Jakarta: Ondel-ondel, Lenong
3.   Jawa Barat: Wayang Golek, Rudat, Banjet, Tarling, Degung
4.   Jawa Tengah: Wayang Kulit, Kuda Lumping, Wayang Orang, Ketoprak, Opak Alang, Sintren
5.   Jawa Timur: Ludruk, Reog, Wayang Kulit
6.   Bali: Wayang Kulit, Janger
7.   Riau: Makyong
8.   Kalimantan: Mamanda
Selain hasil kesenian yang sudah disebutkan di atas, suku-suku bangsa di Indonesia juga mempunyai hasil karya seni dalam bentuk benda. Karya seni yang dihasilkan oleh seniman-seniman dari berbagai suku bangsa yang ada di Indonesia, antara lain seni lukis, seni pahat, seni ukir, patung, batik, anyaman, dan lain-lain. Benda-benda karya seni yang terkenal, antara lain ukiran Bali dan Jepara, Patung Asmat dan patung-patung Bali, anyaman dari suku-suku Dayak di Kalimantan, dan lain-lain. Hasil kerajinan seni ini menjadi barang-barang cindera mata yang sangat digemari turis mancanegara.
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa suku bangsa adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan. Identitas seringkali dikuatkan kesatuan bahasa. Oleh karena itu, kesatuan kebudayaan bukan suatu hal yang ditentukan oleh orang luar, melainkan oleh warga yang bersangkutan itu sendiri. Suku-suku yang ada di Indonesia antara lain Gayo di Aceh, Dayak di Kalimantan, dan Asmat di Papua.
4. Keanekaragaman Agama di Indonesia
Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antar manusia dan lingkungannya
Menurut Penetapan Presiden (Penpres) No.1/PNPS/1965 junto Undang-undang No.5/1969 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan Penodaan agama dalam penjelasannya pasal demi pasal dijelaskan bahwa Agama-agama yang dianut oleh sebagian besar penduduk Indonesia adalah: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Meskipun demikian bukan berarti agama-agama dan kepercayaan lain tidak boleh tumbuh dan berkembang di Indonesia. Bahkan pemerintah berkewajiban mendorong dan membantu perkembangan agama-agama tersebut.
5. Keanekaragaman Ras di Indonesia
Ras dapat diartikan sebagai sekelompok besar manusia yang memiliki ciri-ciri fisik yang sama. Manusia yang satu memiliki perbedaan ras dengan manusia lainnya karena adanya perbedaan ciri-ciri fisik, seperti warna kulit, warna dan bentuk rambut, bentuk muka, ukuran badan, bentuk badan, bentuk dan warna mata, dan ciri fisil yang lain.
Masyarakat indonesia memiliki keberagaman ras disebabkan oleh kehadiran bangsa asing ke wilayah Indonesia. Beberapa ras yang ada di Indonesia seperti
1.       ras malayan-mongoloid yang tersebar di wilayah sumatra, kalimantan, sulawesi, jawa, bali,.
2.       ras malanesoid yang tersebar di daerah Papua, NTT dan maluku.
3.       ras Kaukosoid yaitu orang India, timur Tengah, Australia, Eropa dan Amerika.
4.       ras Asiatic mongoloid seperti orang Tionghoa, korea dan jepang. Ras ini tinggal dan menyebar di seluruh wilayah Indonesia, namun terkadang mendiami wilayah tertentu.
6. Keanekaragaman Golongan di Indonesia
Keanekaragaman golongan atau kelompok dalam masyarakat merupakan suatu gejala yang selalu ada dalam setiap kehidupan manusia dan kedudukannya sangat penting. Mungkin kamu tidak menyadari bahwa sejak kamu lahir sampai meninggal dunia menjadi anggota kelompok dan terikat dengan kelompok. Sejak lahir kamu menjadi anggota keluarga, menjadi warga suatu RT, RW, kelurahan, desa, kecamatan, kabupaten, propinsi dan negara. Meningkat remaja – dewasa kamu juga akan menjadi anggota berbagai macam dan jenis kelompok, mulai menjadi kelompok teman bermain, organisasi sekolah, organisasi bidang sosial, ekonomi, politik seni dan seterusnya. Jadi jelas sekali bahwa manusia itu sangat terikat dengan kelompok dan hidup bersama dalam kelompok serta tidak mungkin lepas dari suatu kelompok (menyendiri tanpa berinteraksi dengan orang lain). Oleh karena itu para ahli sosiologi memandang kelompok atau golongan itu merupakan unsur yang sangat penting dalam masyarakat dan tidak mungkin masyarakat tanpa ada kelompok sosial di dalamnya.
Menurut Merton terjadap dua jenis kelompok social, yakni kelompok dan  kolektivitas.
1.       Kelompok merupakan sekelompok orang yang saling berinteraksi sesuai dengan pola-pola yang telah mapan
2.       kolektivitas merupakan orang-orang yang mempunyai rasa solidaritas karena berbagai nilai bersama dan yang telah memiliki rasa kewajiban moral untuk menjalankan harapan peranan.
Keanekaragaman golongan atau kelompok dalam masyarakat harus dijadikan potensi untuk mempersatukan bangsa, karena pada prinsipnya antara golongan yang satu dengan golongan lainnya saling membutuhkan. Dalam perusahaan misalnya golongan atas (atasan) akan membutuhkan golongan bawah (bawahan atau karyawan). Begitu pula dalam pemerintahan, pejabat pemerintah membutuh rakyat. 
B. Arti Penting Memahami Keberagaman dalam Bingkai Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa kita yang mengungkapkan persatuan dan kesatuan yang berasal dari keanekaragaman. Walaupun kita terdiri atas berbagai suku yang beranekaragam budaya daerah, namun kita tetap satu bangsa Indonesia, memiliki bahasa dan tanah air yang sama, yaitu bahasa Indonesia dan tanah air Indonesia. Begitu juga bendera kebangsaan merah putih sebagai lambang identitas bangsa dan kita bersatu padu di bawah falsafah dan dasar negara Pancasila.
1) Menghormati Suku Bangsa di Indonesia
Kita sebagai bangsa Indonesia harus bersatu padu agar manjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh. Untuk dapat bersatu kita harus memiliki pedoman yang dapat menyeragamkan pandangan kita dan tingkah laku kita dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, akan terjadi persamaan langkah dan tingkah laku bangsa Indonesia. Pedoman tersebut adalah Pancasila, kita harus dapat meningkatkan rasa persaudaraan dengan berbagai suku bangsa di Indonesia.
Dalam mengembangkan sikap menghormati terhadap keragaman suku bangsa, dapat terlihat dari sifat dan sikap dalam kehidupan sehari-hari, seperti kerukunan, semangat tolong menolong, musyawarah untuk mufakat serta kesadaran dan sikap yang mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Menghormati Budaya di Indonesia
Keanekaragaman budaya merupakan kekayaan bangsa kita. Kebudayaan- kebudayaan daerah merupakan modal utama untuk mengembangkan kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional adalah puncak-puncak kebudayaan daerah yang ada di wilayah Indonesia. Kebudayaan daerah yang dapat menjadi kebudayaan nasional harus memenuhi syarat-syarat, seperti:
1.   menunjukkan ciri atau identitas bangsa
2.  berkualitas tinggi sehingga dapat diterima oleh seluruh bangsa Indonesia; dan pantas dan tepat diangkat sebagai budaya nasional.

Kebudayaan dapat diartikan sebagai hasil cita, rasa, dan karya manusia dalam suatu masyarakat dan diteruskan dari generasi ke generasi melalui belajar. Jika kita telusuri, kebudayaan itu meliputi adat kebiasaan, upacara ritual, bahasa, kesenian, alat-alat, mata pencaharian, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Dalam arti sempit kebudayaan diartikan sebagai kesenian atau adat istiadat saja.
Kebudayaan daerah adalah kebudayaan yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat suatu daerah. Pada umumnya, kebudayaan daerah merupakan budaya asli dan telah lama ada serta diwariskan turun-temurun kepada generasi berikutnya. Kebudayaan kita sekarang ini merupakan hasil pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan masa lampau.
Sebagai warga negara Indonesia kita seharusnya bangga dengan adanya keanekaragaman kebudayaan. Bermacam-macam bentuk kebudayaan itu merupakan warisan yang tak ternilai harganya. Kita harus menghormati, melestarikan dan mengembangkan berbagai bentuk warisan budaya yang ada sekarang ini
Sikap menghormati keanekaragaman budaya dapat kita tunjukkan dengan sikap-sikap berikut ini.
1. Menghormati kelompok lain yang menjalankan kebiasaan dan adat istiadatnya.
2.  Tidak menghina hasil kebudayaan suku bangsa lain.
3.  Mau menonton seni pertunjukan tradisional.
4.  Mau belajar dan mengembangkan berbagai jenis seni tradisional
5.  Bangga dengan hasil kebudayaan dalam negeri

Sikap saling menghormati budaya perlu dikembangkan agar kebudayaan kita yang terkenal tinggi nilainya itu tetap lestari, tidak terkena arus yang datang dari luar. Melestarikan kebudayaan nasional harus didasari dengan rasa kesadaran yang tingi tanpa adanya paksaan dari siapapun.
Pembinaan kebudayaan daerah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. pertukaran kesenian daerah
b. pembentukan organisasi kesenian daerah
c. penyebarluasan seni budaya, antara lain melalui radio, TV, surat kabar serta majalah
d. penyelenggaraan seminar mengenai seni budaya daerah
e. membentuk sanggar tari daerah
f. mengadakan pentas kebudayaan

3) Menghormati Agama yang ada di Indonesia
Sejak seseorang sudah diajarkan untuk meyakini dan melaksanakan ajaran agama yang kita anut. Dalam kehidupan berbangsa, kita mengetahui keberagaman dalam agama. Agama tersebut tidak mengajarkan untuk memaksakan kepercayaan kita kepada orang lain. Kita harus menghormati dan menghargai agama dan keyakinan orang lain, dengan begitu tidak akan ada pertengkaran. Seperti semboyan “Bhineka Tunggal Ika”  yang artinya berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
4) Menghormati Ras yang ada di Indonesia
Masyarakat Indonesia memiliki keberagaman ras, disebabkan oleh kedatangan bangsa asing ke wilayah Indonesia, sejarah penyebaran ras di dunia, letak dan kondisi geografis wilayah Indonesia. Beberapa ras yang ada dalam masyarakat Indonesia antara lain ras Malayan-Mongoloid yang ada di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan, dan Sulawesi. Kedua ras Melanesoid yang mendiami daerah Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Ketiga ras Asiatic Mongoloid seperti orang Tionghoa, Jepang, dan Korea. Ras ini tinggal menyebar di seluruh Indonesia, namun terkadang mendiami daerah tertentu. Terakhir adalah ras Kaukasoid yaitu orang India, Timur Tengah, Australia, Eropa, dan Amerika.
Bagaimana kita bisa bersikap menghormati keragaman ras yang ada di tanah air? Kita bisa mengembangkan sikap berikut ini.
1.   Menerima ras orang lain dalam pergaulan sehari-hari. Dalam pergaulan di masyarakat, kita membedakan antara ras yang satu dengan yang lainnya 
2.   Tidak menjelek-jelekkan, menghina, dan merendahkan ras orang  lain. Kita, manusia yang diciptakan Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama. 

5) Menghormati Golongan yang ada di Indonesia
Bagaimana kita bisa bersikap menghormati golongan atau kelompok lain yang ada di tanah air? Sama halnya dengan sikap kita dalam menghormati keragaman ras. Berikut beberapa sikap yang di kembangan dalam menghormati kelompok atau golongan yang lain.
1.   Menerima golongan atau orang lain dalam pergaulan sehari-hari. Dalam pergaulan di masyarakat, kita membedakan antara golongan yang satu dengan golongan dengan yang lainnya 
2.   Tidak menjelek-jelekkan, menghina, dan merendahkan golongan atau kelompok yang  lain. Kita, manusia yang diciptakan Tuhan dengan harkat dan martabat yang sama. 

6) Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Alat Pemersatu Bangsa
Realitas suatu bangsa yang menunjukkan adanya kondisi keanekaragaman suku bangsa, budaya, agama ras dan golongan menga­rahkan pada pilihan untuk menganut asas multi­kulturalisme. Dalam asas multikultu­ralisme ada kesadaran bahwa bangsa itu tidak tunggal, tetapi terdiri atas sekian banyak komponen yang berbeda. Multikluturalisme menekankan prinsip nilai-nilai kebersamaan di antara keragaman suku bangsa, budaya, agama ras dan golongan tersebut. Semua suku bangsa, budaya, agama ras dan golongan pada prinsipnya sama-sama ada dan karena itu harus diperlakukan dalam konteks duduk sama rendah dan berdiri  sama tinggi. Asas itu pulalah yang diambil oleh Indonesia, yang kemudian dirumuskan dalam semboyan yaitu “bhineka tunggal ika”.

Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan bangsa kita yang mengungkapkan persatuan dan kesatuan yang berasal dari keanekaragaman. Walaupun kita terdiri atas berbagai suku yang beranekaragam budaya daerah, namun kita tetap satu bangsa Indonesia, memiliki bahasa dan tanah air yang sama, yaitu bahasa Indonesia dan tanah air Indonesia. Begitu juga bendera kebangsaan merah putih sebagai lambang identitas bangsa dan kita bersatu padu di bawah falsafah dan dasar negara Pancasila.
Negara kita juga memiliki alat-alat pemersatu bangsa yang lain yakni:
1. Dasar Negara Pancasila
2. Bendera Merah Putih sebagai bendera kebangsaan
3. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa persatuan
4. Lambang Negara Burung Garuda
5. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya
6. Lagu-lagu perjuangan

C. Perilaku Toleran terhadap Keberagaman Suku, Agama, Ras, dan antar golongan
Keanekaragaman suku, agama, ras, dan antar golongan jangan dijadikan sebagai perbedaan, tetapi hendaknya dijadikan sebagai kekayaan bangsa Indonesia. Kita selaku bangsa Indonesia mempunyai kewajiban untuk selalu melestarikan persatuan dan kesatuan dalam Negara yang bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika
Di samping itu, dengan mendalami keanekaragaman suku bangsa, ras, agama dan golongan yang ada di Indonesia, wawasan kita akan bertambah sehingga kita tidak akan menjadi bangsa yang kerdil. Kita dapat menjadi bangsa yang mau dan mampu menghargai kekayaan yang kita miliki, yang berupa keanekaragaman kebudayaan tersebut.
Untuk menciptakan suatu integrasi dalam masyarakat yang memiliki tingkat keanekaragamaan kelompok sosial yang tinggi diperlukan dengan sikap pengorbanan sikap toleransi yang besar dan upaya yang kuat untuk melawan prasangka dan diskriminasi. Sikap toleransi berarti sikap yang rela menerima dan menghargai perbedaan dengan orang atau kelompok lain.
Adapun sikap toleransi yang perlu dikembangkan untuk mewujudkan persatuan dalam keragaman antara lain:
1. Tidak memandang rendah suku atau budaya yang lain
2. Tidak menganggap suku dan budayanya paling tinggi dan paling baik
3. Menerima keragaman suku bangsa dan budaya sebagai kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.  
4. Lebih mengutamakan negara dari pada kepentingan daerah atau suku masing-masing.
  1. KEBUDAYAAN THAILAND
Budaya Thailand menggabungkan kepercayaan budaya dan karakteristik asli daerah yang dikenal sebagai hari modern Thailand ditambah dengan banyak pengaruh dari India kuno, Cina, Kamboja, bersama dengan tetangga budaya pra-sejarah Asia Tenggara. Hal ini dipengaruhi terutama oleh Animisme, Hindu, Budha, serta oleh migrasi kemudian dari Cina, dan India selatan.
Seni
Thailand seni visual yang tradisional terutama Buddha. Thailand Buddha gambar dari periode yang berbeda memiliki sejumlah gaya yang khas. Thai seni dan arsitektur candi berevolusi dari sejumlah sumber, salah satunya adalah arsitektur Khmer. Seni kontemporer Thailand sering mengkombinasikan unsur-unsur tradisional Thailand dengan teknik modern. Sastra di Thailand sangat dipengaruhi oleh budaya Hindu India. Karya-karya sastra yang paling menonjol Thailand adalah versi dari Ramayana, epik agama Hindu, yang disebut Ramakien, yang ditulis sebagian oleh Raja Rama I dan Rama II, dan puisi Sunthorn Phu. Tidak ada tradisi drama diucapkan di Thailand, peran, bukan diisi oleh tarian Thailand. Ini dibagi menjadi tiga kategori lakhon-khon, dan likay-khon yang paling rumit dan likay yang paling populer. Nang drama, bentuk wayang, ditemukan di selatan. Musik Thailand termasuk tradisi musik klasik dan rakyat serta string atau musik pop.
   sebuah penggambaran gajah putih dalam seni abad ke-19 Thailand
 Agama

Hampir semua orang Thailand 95% Buddhis Theravada (yang mencakup Tradisi Hutan Thai dan Nikaya Dhammayuttika dan Santi Asoke sekte,) dengan minoritas Muslim di Thailand (4,6%), Kristen di Thailand (0,7%), Buddha Mahayana, dan agama-agama lain. Thailand Buddhisme Theravada didukung dan diawasi oleh pemerintah, dengan para bhikkhu menerima sejumlah tunjangan pemerintah, seperti bebas menggunakan infrastruktur transportasi publik. Buddhisme di Thailand sangat dipengaruhi oleh kepercayaan tradisional tentang roh-roh leluhur dan alam, yang telah dimasukkan ke dalam kosmologi Buddhis. Kebanyakan orang Thailand sendiri semangat rumah, rumah kayu miniatur di mana mereka percaya roh rumah tangga hidup. Mereka menyajikan persembahan makanan dan minuman untuk roh-roh untuk membuat mereka senang. Jika roh-roh yang tidak senang, diyakini bahwa mereka akan menghuni rumah yang lebih besar dari Thailand, dan menyebabkan kekacauan.
Pernikahan
Upacara pernikahan antara Buddhis Thailand umumnya dibagi menjadi dua bagian: sebuah komponen Buddhis, yang meliputi pembacaan doa dan persembahan makanan dan hadiah lain untuk para bhikkhu dan gambar Buddha, dan komponen non-Buddhis berakar pada tradisi rakyat, yang berpusat pada keluarga pasangan. Pada masa lampau, itu tidak diketahui oleh para biksu Budha untuk hadir pada setiap tahap upacara pernikahan itu sendiri. Sebagai biarawan diminta untuk mengurus pemakaman, kehadiran mereka di sebuah pernikahan (yang dikaitkan dengan kesuburan, dan dimaksudkan untuk menghasilkan anak-anak) dianggap sebagai pertanda buruk. Seorang pasangan akan mencari berkat dari kuil lokal mereka sebelum atau setelah menikah, dan mungkin berkonsultasi dengan seorang biarawan untuk saran astrologi dalam pengaturan tanggal menguntungkan untuk pernikahan. Pernikahan Non-Buddhis sering akan berlangsung pada hari yang terpisah.
di zaman modern, larangan ini telah secara signifikan santai. Hal ini tidak biasa untuk kunjungan ke sebuah kuil yang harus dilakukan pada hari yang sama sebagai non-Buddhis bagian dari pernikahan, atau bahkan untuk pernikahan untuk mengambil tempat dalam kuil. Sementara pembagian masih sering diamati antara “agama” dan “sekuler” bagian dari layanan pernikahan, mungkin sederhana seperti para biarawan hadir untuk upacara Buddha berangkat untuk makan siang setelah peran mereka selesai. Selama komponen Buddhis dari layanan pernikahan Mereka kemudian membacakan doa-doa tertentu dasar Buddhis atau nyanyian (biasanya termasuk mengambil tiga perlindungan dan Lima Sila), dan kemenyan cahaya dan lilin sebelum foto. Orang tua dari pasangan kemudian dapat dipanggil untuk ‘menghubungkan’ mereka, dengan menempatkan pada kepala pengantin wanita dan laki-laki. Pasangan itu kemudian dapat membuat persembahan makanan, bunga, dan obat-obatan kepada para bhikkhu ini. Kas hadiah (biasanya ditempatkan dalam amplop) juga dapat disajikan ke kuil pada saat ini.
Kemudian para bhikkhu dan para biarawan berkumpul. Mereka memulai serangkaian bacaan kitab suci Pali dimaksudkan untuk membawa pahala dan berkah bagi pasangan baru. String berakhir dengan biarawan memimpin, yang dapat menghubungkan ke sebuah wadah air yang akan ‘dikuduskan’ untuk upacara. Merit dikatakan perjalanan melalui string dan disampaikan ke air; pengaturan yang sama yang digunakan untuk mentransfer pahala kepada orang mati di sebuah pemakaman, bukti lebih lanjut dari melemahnya tabu pada citra pemakaman pencampuran dan riasan dengan upacara pernikahan. Terpujilah air dapat dicampur dengan tetesan lilin dari lilin menyala sebelum gambar Buddha dan unguents lainnya dan herbal untuk menciptakan sebuah ‘paste’ yang kemudian diterapkan pada dahi pengantin untuk menciptakan sebuah ‘titik’ kecil, mirip dengan menandai kadang-kadang dibuat dengan tinta merah pada umat Hindu. Tanda pengantin dibuat dengan pangkal lilin daripada jempol biarawan itu.
Sekarang biksu tertinggi dapat memilih untuk mengatakan beberapa kata untuk pasangan, menawarkan nasihat atau dorongan. Pasangan itu kemudian dapat membuat persembahan makanan kepada para bhikkhu, di mana titik bagian Buddhis dari upacara ini adalah menyimpulkan. Sistem mahar Thailand dikenal sebagai ‘Dosa Sodt’. Secara tradisional, pengantin pria akan diharapkan untuk membayar sejumlah uang untuk keluarga, untuk mengimbangi mereka dan untuk menunjukkan bahwa pengantin laki-laki secara finansial mampu merawat putri mereka. Kadang-kadang, jumlah ini adalah murni simbolis, dan akan kembali ke pengantin setelah pernikahan telah terjadi.
Komponen religius upacara pernikahan antara Muslim Thailand sangat berbeda dari yang dijelaskan di atas. Imam dari masjid lokal, pengantin pria, ayah dari pengantin wanita, laki-laki dalam keluarga dan laki-laki penting dalam komunitas duduk dalam lingkaran selama upacara, yang dilakukan oleh Imam. Semua perempuan, termasuk pengantin wanita, duduk di ruang terpisah dan tidak memiliki partisipasi langsung dalam upacara tersebut. Komponen sekuler upacara, bagaimanapun, sering hampir identik dengan bagian sekuler upacara pernikahan Buddhis Thailand. Satu-satunya perbedaan penting di sini adalah jenis daging yang disajikan untuk tamu (kambing dan / atau daging sapi bukan daging babi). Thai Muslim sering, meskipun tidak selalu, juga mengikuti konvensi dari sistem mahar Thailand.
Kebiasaan
Kebiasaan tradisional orang Thailand dikumpulkan dan dijelaskan oleh Phya Anuman Rajadhon di abad 20, pada saat modernitas mengubah wajah Thailand dan sejumlah besar tradisi menghilang atau menjadi disesuaikan dengan kehidupan modern. Namun, perselisihan ke arah perbaikan, yang berakar dalam budaya Siam kuno, yang terdiri dalam mempromosikan apa yang halus dan menghindari kekasaran adalah penekanan utama dalam kehidupan sehari-hari semua orang Thailand teratas dalam skala nilai mereka. Salah satu yang paling khas. Menampilkan ucapan, perpisahan, atau pengakuan, ia datang dalam beberapa bentuk yang mencerminkan status relatif dari mereka yang terlibat. Umumnya salam melibatkan gerakan doa seperti dengan tangan, mirip dengan mudra Anjali dari anak benua India, dan juga mungkin termasuk membungkuk sedikit kepala. Salam ini sering disertai dengan senyum tenang melambangkan sebuah disposisi ramah dan sikap yang menyenangkan. Thailand sering disebut sebagai “Tanah Senyuman” dalam brosur wisata.
Pemakaman
Menangis tidak disarankan saat pemakaman, agar tidak khawatir ruh almarhum. Banyak kegiatan di sekitar pemakaman dimaksudkan untuk membuat manfaat untuk almarhum. Salinan kitab suci agama Buddha dapat dicetak dan didistribusikan dalam nama almarhum, dan hadiah-hadiah yang biasanya diberikan ke kuil setempat. Para bhikkhu diundang untuk menyanyikan doa-doa yang dimaksudkan untuk memberikan manfaat untuk orang yang meninggal, serta memberikan perlindungan terhadap kemungkinan relatif mati kembali sebagai roh jahat. Sebuah gambar dari almarhum dari / nya hari terbaik akan sering ditampilkan di sebelah peti mati. Seringkali, thread terhubung ke mayat atau peti mati yang dipegang oleh para biarawan nyanyian selama bacaan mereka, thread ini dimaksudkan untuk mentransfer kebaikan bacaan para biarawan ‘kepada almarhum. Mayat ini dikremasi, dan guci dengan abu biasanya disimpan dalam sebuah chedi di kuil lokal. Namun minoritas Tionghoa menguburkan almarhum.
Kayu pembakaran jenazah Chan Kusalo, Patriark-Biara utara Thailand
Pakaian Adat Thailand
Pengaruh agama Buddha amat kuat di Thailand. Hal ini dapat dilihat dengan terbinannya 50000 buah kuil. Melalui sami-sami Buddha inilah, negara Thailand berhubungan denganadat istiadat jajahan India. Mislanya, pakaian beradat di negeri Thai seperti pakaian Panong.Pakaian panong ini ialah sehelai kain yang dililit di bahagian bawah badan dan dimasukkandi celah kaki seperti kain dhoti di India. Pakaian ini dipakai oleh orang lelaki dan perempuandi Thailand
Pakaian adat Thailan disebut kaftan atau tunika
Perempuan Leher Panjang Di Thailand
Sebuah suku di thailand memnag menjadi sangat menarik di perhatikan pasalanya disana ada sebuah suku yang dimana para wanita memiliki leher panjang.Tempat ini terletak di sebelah utara Thailand.  Desa Padaung Karen yang menyuguhkan atraksi wisata kontroversial tersebut.
Cantik menurut sebagian masyarakat Thailand
Warga sekitar menjadi sangat populer dnegan sebutan gadis dengan “leher panjang”, mereka masih berusia lima tahun dengan cincin kuningan yang bertumpuk di lehernya. Uniknya Cincin kuningan tersebut akan terus bertambah seiring dengan pertambahan usia mereka.
Hal ini menjadi sangat menarik dan menjadi sangat fenomenal, Sebagian orang mendukung program wisata tersebut dengan alasan mempertahankan kebudayaan di Thailand di mata wisatawan dunia. Namun, kelompok lainnya menolak keras karena menganggap hal tersebut merupakan salah satu bentuk eksploitasi perempuan dan anak-anak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar